This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 24 Mei 2013

TEKNIK DRAINASE

TEKNIK DRAINASE
Drainase (drainage) berasal dari kata kerja 'to drain' yang artinya mengeringkan atau mengalirkan air, dan merupakan suatu terminologi yang digunakan untuk menyatakana sistim-sistim yang berkaitan dengan penanganan masalah kelebihan air, baik diatas maupun dibawah permukaan tanah. Pengertian drainase perkotaan tidak terbatas pada teknik pembuangan air yang berlebihan namun lebih luas lagi menyangkut keterkaitannya dengan aspek kehidupan yang berada di dalam kawasan perkotaan.Semua hal yang menyangkut kelebihan air yang berada di kawasan kota sudah pasti dapat menimbulkan permasalahan drainase yang cukup komplek. Dengan semakin kompleknya permasalahan drainase di perkotaan, maka di dalam perencanaan dan pembangunan bangunan air untuk drainase perkotaan, keberhasilannya tergantung pada kemampuan masing-masing perencana. Dengan demikian di dalam proses pekerjaan memerlukan kerjasama dengan beberapa ahli di bidang lain yang terkait.

Secara umum drainase didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu Sedangkan drainase perkotaan adalah ilmu drainase yang meng-khususkan pengkajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi Lingkungan Fisik dan Lingkungan Sosial Budaya yang ada di kawasan kota tersebut. Drainase perkotaan merupakan sistim pengeringan dan pengaliran air dan wilayah perkotaan yang meliputi : Pemukiman, kawasan industri & perdagangan, sekolah, rumah sakit, & pasilitas umum lainnya, lapangan olah raga, Lapangan parkir, instalasi militer, instalasi listrik & telekomunikasi, pelabuhan udara, pelabuhan lautlsungai serta tempat lainnya yang merupakan bagian dari sarana kota. Dengan demikian Kriteria Desain drainase perkotaan memiliki ke-khususan, sebab untuk perkotaan ada tambahan variabel design seperti : keterkaitan dengan tata guna lahan, keterkaitan dengan master plan drainase kota, keterkaitan dengan masalah sosial budaya (kurangnya kesadaran masyarakat dalam ikut memelihara fungsi drainase kota) dan lain-lain.

Drainase yang berasal dari kata to drain yang berarti mengeringkan atau mengalirkan air drainase, merupakan suatu sistem pembuangan air bersih dan air limbah dari daerah pemukiman, industri, pertanian, badan jalan dan permukaan perkerasan lainnya, serta berupa penyaluran kelebihan air pada umumnya, baik berupa air hujan, air limbah maupun air kotor lainnya yang keluar dari kawasan yang bersangkutan baik di atas maupun di bawah permukaan tanah ke badan air atau ke bangunan resapan buatan.

Pemahaman secara umum mengenai drainase perkotaan adalah suatu ilmu dari drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan, yaitu merupakan suatu sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah perkotaan yang meliputi pemukiman, kawasan industri dan perdagangan, sekolah, rumah sakit, lapangan olahraga, lapangan parkir, instalasi militer, instalasi listrik dan telekomunikasi, pelabuhan udara, pelabuhan laut, serta tempat-tempat lainnya yang merupakan bagian dari sarana kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan, sehingga menimbulkan dampak negatif dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia.

Untuk mendapatkan pemahaman tentang drainase secara umum, maka kita perlu mengetahui latar belakang diperlukannya suatu drainase, tujuan dan manfaat dari pembuatan drainase tersebut, jenis drainase yang umum digunakan, sejarah perkembangan, prinsip-prinsip sistem drainase dan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah berhubungan dengan pencapaian lingkungan yang baik, asri dan nyaman bagi masyarakat.

Siklus keberadaan air di suatu lokasi dimana manusia bermukim, pada masa tertentu akan mengalami keadaan berlebih, sehingga dapat mengganggu kehidupan manusia. Selain itu semakin kompleksnya kegiatan manusia dapat menghasilkan limbah berupa air buangan yang dapat mengganggu kelangsungan hidupnya, dan dengan adanya keinginan untuk meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan hidup maka manusia mulai berusaha untuk mengatur lingkungannya dengan cara melindungi daerah pemukimannya dari air berlebih dan air buangan.

Didalam daerah yang belum berkembang/pedesaan, drainase terjadi secara alamiah sebagai bagian dari siklus hidrologi. Drainase alami ini berlangsung tidak secara statis melainkan terus berubah secara konstan menurut keadaan fisik lingkungan sekitar. Seiring dengan berkembangnya kawasan perkotaan yang ditandai dengan banyak didirikannya bangunan-bangunan yang dapat menunjang kehidupan dan kenyamanan masyarakat kota, maka sejalan dengan itu diperlukan pula suatu sistem pengeringan dan pengaliran air yang baik untuk menjaga kenyamanan masyarakat kota. Sehingga drainase perkotaan harus saling padu dengan sampah, sanitasi dan pengendalian banjir perkotaan.

Drainase perkotaan bertujuan untuk mengalirkan air lebih dari suatu kawasan yang berasal dari air hujan maupun air buangan, agar tidak terjadi genangan yang berlebihan pada suatu kawasan tertentu. Karena suatu kota terbagi-bagi menjadi beberapa kawasan, maka drainase di masing-masing kawasan merupakan komponen yang saling terkait dalam suatu jaringan drainase perkotaan dan membentuk satu sistem drainase perkotaan.

Dengan adanya suatu sistem drainase di perkotaan maka akan diperoleh banyak manfaat pada kawasan perkotaan yang bersangkutan, yaitu akan semakin meningkatnya kesehatan, kenyamanan dan keasrian daerah pemukiman khususnya dan daerah perkotaan pada umumnya, dan dengan tidak adanya genangan air, banjir dan pembuangan limbah yang tidak teratur, maka kualitas hidup penduduk di wilayah bersangkutan akan menjadi lebih baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan ketentraman seluruh masyarakat.


Sabtu, 18 Mei 2013

TEORI TEORI MOTIVASI

TEORI TEORI MOTIVASI
bY Khay..........

         Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan..
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.
Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa. Landy dan Becker membuat pengelompokan pendekatan teori motivasi ini menjadi 5 kategori yaitu teori kebutuhan,teori penguatan,teori keadilan,teori harapan,teori penetapan sasaran.
A. TEORI MOTIVASI ABRAHAM MASLOW (1943-1970)
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.
• Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
• Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
• Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
• Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
• Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya)
Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman.
B. TEORI MOTIVASI HERZBERG (1966)
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).
C. TEORI MOTIVASI DOUGLAS McGREGOR
Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif), Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang manajer
a.       karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
b.      karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
c.       Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
d.      Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja.
Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
  1. karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
  2. Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran.
  3. Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
  4. Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.
D. TEORI MOTIVASI VROOM (1964)
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
• Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
• Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
• Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan
E. Achievement TheoryTeori achievement Mc Clelland (1961),
 yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:
• Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
• Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)
• Need for Power (dorongan untuk mengatur)
F. Clayton Alderfer ERG

 Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mngemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerakk yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.

SEminar Nasional Pembangunan Perkotaan (REFERENSI UNTUK PENGEMBANGAN WILAYAH KOTA)



Seminar Nasional Pembangunan Perkotaan
Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah (Otda) Bappenas, Ir. Max H. Pohan, CES., MA., menjadi keynote speaker dalam acara seminar nasional Pembangunan Perkotaan "Arah Pembangunan Kota-Kota Besar dan Metropolitan di Indonesia", pada Kamis (20/11), pukul 09.00 WIB, di Ruang Rapat SG 1-4, Gedung Bappenas, yang diselenggarakan oleh Direktorat Perkotaan dan Perdesaan Bappenas.

Dalam paparannya mengenai Review dan Arah Kebijakan Pembangunan Perkotaan, Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otda mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi dalam arah pembangunan kota-kota besar dan metropolitan di Indonesia dimasa depan adalah: 1) kota-kota besar dan metropolitan mau tidak mau berperan sebagai Engine of Growth dari pembangunan nasional; dan 2) jika dilihat dari aspek pembangunan yang harmonis, peran kota-kota besar dan metropolitan sebagai "Engine of Growth" juga mendapatkan tantangan, yaitu untuk tetap memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan dan kelayakhunian.

"Berdasarkan studi yang dilakukan Bappenas, jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan semakin meningkat, dari 35,9% pada tahun 1995 menjadi 48,3% pada tahun 2005. Bahkan diperkirakan sebelum tahun 2010 jumlah penduduk perkotaan secara nasional telah melampaui jumlah penduduk perdesaan, dan pada tahun 2025 nanti 68,3% penduduk Indonesia akan mendiami kawasan perkotaan, " kata Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otda.

RPJPN 2005-2025 mengamanahkan bahwa pembangunan perkotaan diagendakan untuk saling kait mengait dengan wilayah perdesaan dalam upaya untuk mewujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan. Yang mengarah pada: 1) pembangunan kota-kota metropolitan, besar, menengah, dan kecil, yang diseimbangkan pertumbuhannnya dengan mengacu pada sistem pembangunan perkotaan nasional; 2) pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan dikendalikan dalam suatu sistem pembangunan metropolitan yang kompak, nyaman, efisien dalam pengelolaan, serta mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan; 3) percepatan pembangunan kota-kota kecil dan menengah ditingkatkan terutama di luar Pulau Jawa; dan 4) peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan dengan kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan didorong secara sinergis, dalam artian hasil produksi wilayah perdesaan merupakan backward linkages dari kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan, dalam suatu "sistem wilayah pengembangan ekonomi".

Seminar kemudian diisi dengan pemaparan dan diskusi oleh para narasumber yang berasal dari pemda, pengamat dan pakar di bidang perkotaan, dengan dipandu oleh Staf Ahli Menneg PPN Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Penanggulangan Kemiskinan, Dr. Ir. Imron Bulkin, MRP.
Konsep pengembangan wilayah dikembangkan dari kebutuhan suatu daerah untuk meningkatkan fungsi dan perannya dalam menata kehidupan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan kesehateraan masyarakat. Pengaruh globalisasi, pasar bebas dan regionalisasi menyebabkan terjadinya perubahan dan dinamika spasial, sosial, dan ekonomi antarnegara, antardaerah (kota/kabupaten), kecamatan hingga perdesaan. Globalisasi juga ditandai dengan adanya revolusi teknologi informasi, transportasi dan manajemen. [...]
Teori perencanaan kota mulai dikenal sejak tahun 1945, yaitu sejak Perang Dunia Pertama, dan mengalami perubahan yang signifikan sejak jaman Postmodern, yaitu sekarang ini. Menurut Nigel Taylor (1998), perubahan yang mendasar adalah pada paradigma perencanaan kota itu sendiri. Pada awal lahirnya teori perencanaan kota, perencanaan kota dipakai sebagai alat untuk menggambarkan ide-ide sosial dari penguasa saat itu. Pada awal abad 21, perubahan banyak terjadi pada kultur dan nilai-nilai yang mempengaruhi paradigma perencanaan kota.
Ada tiga konsep pemikiran yang mendasar pada teori perencanaan kota tahun 1945, khususnya di Eropa, yaitu:
1. perencanaan kota sebagai perencanaan fisik kota
2. perancangan kota sebagai esensi dari perencanaan kota
3. ketepatan spasial dalam bentuk ‘gambar’ ataupun ‘blue print’ sebagai produk akhir dari suatu perencanaan kota sangat dituntut (Taylor, 1998,p.5).
Ketiga konsep perencanaan kota diatas bertahan sampai Perang Dunia Kedua, dimana perencanaan kota lebih dianggap sebagai bagian dari arsitektur atau seni, ruang kota seperti layaknya kanvas yang luas. Meskipun konsep tentang perencanaan kota sebagai produk fisik masih tetap diakui sampai sekarang ini. Perubahan ini dapat dikatakan sebagai perubahan yang bersifat internasional: perencanaan kota adalah arsitektur dalam skala yang lebih luas. Sehingga konsekuensinya, profesi perencana kota sebagian besar adalah juga arsitek.
Sejak 1960-an, perencanaan kota lebih dilihat sebagai suatu sistem dari pada produk fisik. Yaitu merencanakan sistem suatu kota yang pada dasarnya merupakan akumulasi dari sistem-sistem yang lebih kecil di dalam kota yang saling berhubungan, seperti jaringan jalan kota, dan sistem jaringan air kota. Konsep ini lebih didasari pada nilai sosial dan kegiatan ekonomi dari kota, yang pada akhirnya
melibatkan banyak keilmuan dalam merencanakan suatu kota.
Hingga akhir 1960, yang dianggap sebagai awal dari jaman Postmodern, perencanaan kota lebih cenderung pada perencanaan yang komprehensif, yang mempertahankan keragaman dan pluralisme. Masyarakat dengan bebas menentukan nilai-nilai unik yang mereka miliki, dan menjadi pertimbangan yang signifikan pada perencanaan kota. Bisa diambil contoh yaitu proses pengambilan keputusan terhadap perencanaan suatu kawasan di banyak negara maju yang saat ini lebih bersifat bottom-up.
Perkembangan teori perencanaan kota sangat tergantung pada perkembangan kota itu sendiri (urban development). Paul Balchin, David Isaac, dan Jean Chen (2000), menggambarkan siklus perkembangan kota sebagai kurva yang meningkat sejak abad 18 sampai pertengahan abad 19. Kurva ini bisa dijelaskan sebagai berikut:
1. Proses urbanisasi.
Yaitu proses tumbuhnya kota karena perpindahan penduduk dari rural ke urban yang diawali dengan adanya Revolusi Industri pada abad 18.
2. Proses urbanisasi atau sub-urbanisasi.
Proses urbanisasi menimbulkan berkembangnya sektor jasa yang cukup pesat dan kegiatan manufaktur yang cenderung memilih lokasi pinggiran/ luar pusat kota, sehingga pada tahap ini menyebabkan tumbuhnya suburbansuburban.
3. Proses sub-urbanisasi.
Proses sub-urbanisasi yang diikuti dengan menurunnya populasi di pusat kota.
4. Proses re-urbanisasi atau de-urbanisasi.
Yaitu proses yang disebabkan oleh berkembangnya suburban menjadi urban.

Gambar 1. Kurva Perkembangan Kota (Urban Development) (Balchin et al., 2000, p.246)
Dilihat dari sekuen waktu teori perkembangan kota diatas, teori perencanaan kota mulai berkembang pada tahap urbanisasi dan suburbanisasi, dimana sudah dikenal adanya pertumbuhan daerah pinggiran kota. Pusat kota tumbuh pesat akibat Revolusi Industri (urbanisasi) dan dipicu dengan rusaknya kota karena Perang Dunia Pertama, penguasa kota baru menyadari pentingnya merencanakan suatu kota, dengan menganggap perencanaan kota sebagai bagian dari arsitektur yang lebih makro. Proses sub-urbanisasi mengikuti proses urbanisasi, selama Perang Dunia Kedua, memandang kota lebih kepada integrasi dari banyak system didalam kota, termasuk sistem yang menyatukan pusat kota dan daerah pinggiran yang mulai tumbuh. Pada proses re-urbanisasi atau deurbanisasi, yaitu sejak abad 21, lebih banyak dipengaruhi oleh issue globalisasi.
(Vibiznews-Property)- Perkembangan kota-kota di Indonesia yang mulai pesat sekarang ini menuntut suatu perencanaan yang matang dalam memenuhi kebutuhan setiap lapisan masyarakat yang ada. Pemerintah diharapkan dapat menciptakan suatu kota yang nyaman bagi setiap individu untuk dapat tinggal dan beraktifitas. Untuk itu diperlukan suatu perencanaan kota yang terintegrasi dengan baik antara satu kawasan dengan kawasan yang lainnya, mengingat setiap kawasan memiliki fungsinya masing-masing dan saling melengkapi. Adapun menurut National Urban development Strategy (NUDS, 1985) terdapat 4 dasar fungsi kota;

– Hinterland Services
– Interregional communication
– Goods processing (manufacturing)
– Residential subcenters

Setiap kota di dunia selalu memiliki 4 dasar kegiatan fungsional tersebut, namun yang membedakannya adalah skala pelayanannya. Berdasarkan keragaman fungsi dan skala pelayanannya, kota-kota dapat digolongkan menjadi;

– National Development Centers (NDC)
– Interregional Development Centers (IDC)
– Regional Development Centers (RDC)
– Local Service Centers (LSC)

Perkembangan suatu kota kini tidak didominasi oleh satu golongan saja. Hal ini tidak memungkiri bahwa kota pada golongan Local Service Centers dapat berkembang menjadi Regional Development Centers dalam waktu beberapa tahun, tergantung perencanaan yang telah ditetapkan pemerintah. Namun pada dasarnya, kegiatan perencanaan suatu kota selalu bertujuan untuk mendukung aktivitas di dalamnya, yaitu:
- Penyedian fasilitas umum yang memadai
- Penyedian fasilitas utilitas
- Penyedian perumahan (lokasi, distribusi, estetika)
- Penyedian sistem transpotasi

Perencanaan Kota di Indonesia
Di Indonesia, suatu rencana kota tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah, yang tentunya dimiliki oleh setiap kawasan dari tingkat kecamatan sampai nasional. Berikut prosedur perencanaan kota di Indonesia berdasarkan UU No. 24 tahun 1992;

Rencana tata ruang biasanya diperbaharui setiap 5 tahun sekali untuk kawasan setingkat kecamatan. Semakin luas kawasan yang ditangani, semakin panjang jangka waktu yang diperlukan untuk menyusun rencana baru, namun tetap diadakan evaluasi dalam jangka waktu yang ditentukan.
Adapun penggolongan rencana menurut RTRW membagi skala kota menjadi 2 jenis, yaitu Perencananan Kota Nasional (PKN) dan Perencananan Kota Wilayah (PKW).
Perencanaan Kota Nasional berlaku bagi kota yang memiliki ciri sebagai berikut:
• Pusat yg mempunyai potensi sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan internasional dan mempunyai potensi untuk mendorong daerah sekitarnya
• Pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yang melayani nasional atau beberapa propinsi
• Pusat pengolahan/pengumpul barang secara nasional atau meliputi beberapa propinsi
• Simpul transportasi secara nasional atau meliputi beberapa propinsi
• Pusat jasa pemerintahan untuk nasional atau meliputi beberapa propinsi
• Pusat jasa-jasa kemasyarakatan yang lain untuk nasional atau meliputi beberapa propinsi

Perencananan PKW berlaku bagi kota yang memiliki ciri sebagai berikut:
• Pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yg melayani propinsi atau beberapa kabupaten
• Pusat pengolahan/pengumpul barang untuk satu propinsi atau meliputi beberapa kabupaten
• Simpul transportasi untuk satu propinsi atau meliputi beberapa kabupaten
• Pusat jasa pemerintahan untuk satu propinsi atau meliputi beberapa kabupaten
• Pusat jasa-jasa kemasyarakatan yang lain untuk untuk satu propinsi atau meliputi beberapa kabupaten

Perencanaan kota-kota di Indonesia perlu dilakukan secara matang dan terpola. Maka dari itu diperlukan perencanaan yang memperhatikan kondisi fisik dan kondisi masyarakat yang ada. Kondisi fisik seperti fasilitas dan utilitas yang memadai, hunian yang sehat, dan sistem transportasi yang efisien dapat mendukung aktifitas masyarakat sehingga dapat menciptakan kota yang produktif.
Selain itu, pembangunan kota-kota di Indonesia harus sesuai prosedur yang diatur dalam RTRW. Diharapkan dengan adanya kejelasan hukum dan tata guna lahan yang ada pada RTRW dapat diterapkan pelaksanaannya di berbagai daerah di Indonesia sehingga mendukung pertumbuhan kota-kota yang ada menjadi lebih cepat, tepat, dan optimal.
Perencanaan pembangunan kota-kota yang disusun pemerintah daerah perlu disederhanakan agar program yang terkait dengan masalah pembangunan perumahan dan kawasan permukiman bagi masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Menteri Negara Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa mengatakan apabila program perumahan dapat dilaksanakan dengan baik tentunya bisa menjadi salah satu muara bagi pembangunan kota-kota di masa yang akan datang.
"Semua aktifitas masyarakat di kota pastinya akan kembali di rumah. Jadi rumah merupakan muara perencanaan pembangunan kota," kata Suharso dalam siaran pers yang diterima Bisnis, hari ini.
Menurut Suharso Monoarfa, kebutuhan rumah bagi masyarakat di kota-kota besar saat ini memang cukup besar, artinya ada peluang investasi di sektor perumahan yang bisa disinergikan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah serta pengembang.
“Sudah saatnya pemda dan pengembang menjemput bola terkait pemenuhan perumahan bagi masyarakat. Sebab, rumah di Jakarta sudah sangat padat dan perlu dikembangkan ke daerah-daerah,” katanya.
Menurut Suharso pembangunan kota-kota baru diharapkan dapat  terlaksana dengan baik sehingga masyarakat bisa beraktifitas dekat dengan tempat tinggalnya.
Dia menambahkan, saat ini pemerintah tengah mengembangkan Kota Maja sebagai sodetan atas lokasi perumahan baru bagi masyarakat di Jakarta. Kota yang berada di tiga daerah yakni Kabupaten Tangerang, Pandeglang dan Bogor ini, katanya diharapkan bisa menjadi kota baru sehingga bisa mengurangi mobilitas warga di Ibukota.
Lebih lanjut, Suharso menuturkan pemerintah segera membangun infrastruktur kota seperti jalan dan rel kereta api sebagai jalur tranportasi masyarakat.
Sementara itu, Sekertaris Daerah Kabupaten Tangerang Hermansyah mengatakan pihaknya mendukung kebijakan serta program pemenuhan kebutuhan perumahan bagi masyarakat, khususnya di Kabupaten Tangerang.
Menurut dia saat ini potensi bisnis perumahan dan properti di Kabupaten Tangerang telah menjadi salah salah satu bagian dari pengembangan daerah tersebut.
“Kabupaten Tangerang kini telah menjadi salah satu lokasi tempat tinggal pilihan bagi masyarakat yang bekerja di ibukota. Tentunya ke depan kami tetap memberikan dukungan terhadap program perumahan  sebab jumlah kebutuhannya sangat besar,” imbuhnya. (gak)
 Perencanaan
Conyers dan Hill (1984:3):
Perencanaan merupakan sebuah proses yang berkelanjutan yang menghasilkan keputusan-keputusan, atau pilihan-pilihan, tentang alternatif cara penggunaan sumberdaya-sumberdaya yang memungkinkan, dengan tujuan untuk mencapai suatu bagian dari tujuan dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang.
Elemen dasar dari perencanaan kota:
¡   Merencana berarti membuat suatu pilihan.
¡   Perencanaan berarti mengalokasikan sumberdaya yang ada.
¡   Perencanaan berarti mencapai tujuan.
¡   Perencanaan untuk masa yang akan datang.
Perencanaan di Dunia Ketiga
  • Perencanaan lebih diapresiasi sebagai perencanaan fisik dan perencanaan pembangunan ekonomi.
  • Perencanaan sosial dan lingkungan seringkali kurang mendapatkan perhatian yang cukup.
  • Akibatnya sering terjadi ketimpangan  hasil-hasil pembangunan.
  • Pembangunan teknologi dan ekonomi mengalami kemajuan linier, tetapi manusianya tidak siap menyesuaikan dengan kemajuan teknologi dan ekonomi.

Unsur-Unsur dalam Pembangunan
Unsur-unsur dalam pembangunan:
¡   Proses perubahan
¡   Upaya yang terencana
¡   Tujuan yang lebih baik
¡   Dengan nilai dan norma tertentu
Pembangunan adalah suatu proses perubahan yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang lebih baik bagi masyarakat, dan dilakukan dengan norma-norma atau nilai-nilai tertentu.
Perencanaan Pembangunan Kota
  • Perencanaan adalah upaya untuk mengenali kemampuan diri dan mengenali pihak lain sebagai pembanding, menentukan suatu cita-cita hendak menjadi apa, menentukan pilihan sumberdaya untuk digerakkan, dan menentukan tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai di masa depan melalui suatu implementasi.
  • Pembangunan adalah suatu proses perubahan yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang lebih baik bagi masyarakat, dan dilakukan dengan norma-norma atau nilai-nilai tertentu.
  • Perencanaan pembangunan kota adalah upaya mengenali potensi kota, dan mengenali kota lain sebagai referensi untuk menentukan wajah kota, kemudian mengenali sumberdaya yang adadan menggerakkannya, dan diimplementasikan secara bertahap, biasanya dengan prioritas tertentu, dengan tujuan dan nilai  tertentu di masa depan untuk memperoleh perbaikan di bidang fisik, sosial, dan ekonomi pada umumnya.
Urutan tingkat perencanaan menurut skala (Steigenga dalam Jayadinata, 1992)
  • Perencanaan lokal:
- Perencanaan luhak (lokal terbatas), meliputi kampung, kota kecil, dan sebagian kota besar.
- Perencanaan mandala (lokal yang lebih luas), mengenai sekelompok kampung atau kota sedang.
  • Perencanaan wilayah, meliputi kota-kota besar dan pemusatan penduduk (aglomerasi ) di perkotaan, wilayah pedesaan dalam suatu daerah, himpunan (konurbasi) kota, dsb.
  • Perencanaan nasional, yakni mengenai negara-negara dan bagian-bagiannya, biasanya menyangkut perencanaan ekonomi dan memerlukan modal nasional.
  • Perencanaan sebagian benua (patial continental niveau), yaitu megenai hubungan negara dengan negara-negara lain di sekitarnya, misalnya dalam hubungan Indonesia dengan Asia Tenggara.
  • Administrasi perencanaan daerah,yaitu mengenai bagian-bagian suatu negara.
Di Indonesia
  • Perencanaan  Nasional: untuk seluruh wilayah negara Repulik Indonesia.
  • Perencanaan Kawasan: untuk memfokuskan suatu perencanaan pembangunan secara garis besar dengan tujuan tertentu.  misal: kawasan Indonesia Timur.
  • Perencanaan  Regional: untuk wilayah yang lebih luas, seperti wilayah propinsi, wilayah kabupaten/kota.
  • Perencanaan Lokal: untuk wilayah yang lebih kecil.