Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Drainase
(drainage) berasal dari kata kerja 'to drain' yang artinya mengeringkan atau
mengalirkan air, dan merupakan suatu terminologi yang digunakan untuk
menyatakana sistim-sistim yang berkaitan dengan penanganan masalah kelebihan
air, baik diatas maupun dibawah permukaan tanah. Pengertian drainase
perkotaan tidak terbatas pada teknik pembuangan air yang berlebihan namun
lebih luas lagi menyangkut keterkaitannya dengan aspek kehidupan yang berada
di dalam kawasan perkotaan.Semua hal yang menyangkut kelebihan air yang
berada di kawasan kota sudah pasti dapat menimbulkan permasalahan drainase
yang cukup komplek. Dengan semakin kompleknya permasalahan drainase di
perkotaan, maka di dalam perencanaan dan pembangunan bangunan air untuk drainase
perkotaan, keberhasilannya tergantung pada kemampuan masing-masing perencana.
Dengan demikian di dalam proses pekerjaan memerlukan kerjasama dengan
beberapa ahli di bidang lain yang terkait.
Secara umum drainase didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang
mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks
pemanfaatan tertentuSedangkan
drainase perkotaan adalah ilmu drainase yang meng-khususkan pengkajian pada
kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi Lingkungan Fisik dan
Lingkungan Sosial Budaya yang ada di kawasan kota tersebut. Drainase
perkotaan merupakan sistim pengeringan dan pengaliran air dan wilayah
perkotaan yang meliputi : Pemukiman, kawasan industri & perdagangan,
sekolah, rumah sakit, & pasilitas umum lainnya, lapangan olah
raga, Lapangan parkir, instalasi militer, instalasi listrik &
telekomunikasi, pelabuhan udara, pelabuhan lautlsungai serta tempat lainnya
yang merupakan bagian dari sarana kota. Dengan demikian Kriteria Desain
drainase perkotaan memiliki ke-khususan, sebab untuk perkotaan ada tambahan
variabel design seperti : keterkaitan dengan tata guna lahan, keterkaitan
dengan master plan drainase kota, keterkaitan dengan masalah sosial budaya
(kurangnya kesadaran masyarakat dalam ikut memelihara fungsi drainase kota)
dan lain-lain.
Drainase
yang berasal dari kata to drain yang berarti mengeringkan atau mengalirkan air
drainase, merupakan suatu sistem pembuangan air bersih dan air limbah dari
daerah pemukiman, industri, pertanian, badan jalan dan permukaan perkerasan
lainnya, serta berupa penyaluran kelebihan air pada umumnya, baik berupa air
hujan, air limbah maupun air kotor lainnya yang keluar dari kawasan yang
bersangkutan baik di atas maupun di bawah permukaan tanah ke badan air atau ke
bangunan resapan buatan.
Pemahaman secara umum mengenai drainase perkotaan adalah suatu ilmu dari
drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan, yaitu merupakan
suatu sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah perkotaan yang
meliputi pemukiman, kawasan industri dan perdagangan, sekolah, rumah sakit,
lapangan olahraga, lapangan parkir, instalasi militer, instalasi listrik dan
telekomunikasi, pelabuhan udara, pelabuhan laut, serta tempat-tempat lainnya
yang merupakan bagian dari sarana kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan
air permukaan, sehingga menimbulkan dampak negatif dan dapat memberikan manfaat
bagi kegiatan kehidupan manusia.
Untuk mendapatkan pemahaman tentang drainase secara umum, maka kita perlu
mengetahui latar belakang diperlukannya suatu drainase, tujuan dan manfaat dari
pembuatan drainase tersebut, jenis drainase yang umum digunakan, sejarah
perkembangan, prinsip-prinsip sistem drainase dan kebijakan-kebijakan yang
diambil pemerintah berhubungan dengan pencapaian lingkungan yang baik, asri dan
nyaman bagi masyarakat.
Siklus keberadaan air di suatu lokasi dimana manusia bermukim, pada masa
tertentu akan mengalami keadaan berlebih, sehingga dapat mengganggu kehidupan
manusia. Selain itu semakin kompleksnya kegiatan manusia dapat menghasilkan
limbah berupa air buangan yang dapat mengganggu kelangsungan hidupnya, dan
dengan adanya keinginan untuk meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan hidup
maka manusia mulai berusaha untuk mengatur lingkungannya dengan cara melindungi
daerah pemukimannya dari air berlebih dan air buangan.
Didalam daerah yang belum berkembang/pedesaan, drainase terjadi secara alamiah
sebagai bagian dari siklus hidrologi. Drainase alami ini berlangsung tidak
secara statis melainkan terus berubah secara konstan menurut keadaan fisik
lingkungan sekitar. Seiring dengan berkembangnya kawasan perkotaan yang
ditandai dengan banyak didirikannya bangunan-bangunan yang dapat menunjang
kehidupan dan kenyamanan masyarakat kota, maka sejalan dengan itu diperlukan
pula suatu sistem pengeringan dan pengaliran air yang baik untuk menjaga
kenyamanan masyarakat kota. Sehingga drainase perkotaan harus saling padu
dengan sampah, sanitasi dan pengendalian banjir perkotaan.
Drainase perkotaan bertujuan untuk mengalirkan air lebih dari suatu kawasan
yang berasal dari air hujan maupun air buangan, agar tidak terjadi genangan
yang berlebihan pada suatu kawasan tertentu. Karena suatu kota terbagi-bagi
menjadi beberapa kawasan, maka drainase di masing-masing kawasan merupakan
komponen yang saling terkait dalam suatu jaringan drainase perkotaan dan
membentuk satu sistem drainase perkotaan.
Dengan adanya suatu sistem drainase di perkotaan maka akan diperoleh banyak
manfaat pada kawasan perkotaan yang bersangkutan, yaitu akan semakin
meningkatnya kesehatan, kenyamanan dan keasrian daerah pemukiman khususnya dan
daerah perkotaan pada umumnya, dan dengan tidak adanya genangan air, banjir dan
pembuangan limbah yang tidak teratur, maka kualitas hidup penduduk di wilayah
bersangkutan akan menjadi lebih baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
dan ketentraman seluruh masyarakat.
Motivasi merupakan satu
penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu
tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk
menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi
adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai
motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam
kehidupan..
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Motivasi yang
bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat
seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan
pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang
atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi
ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di
pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi
seperti status ataupun kompensasi.
Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan
untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia
akan dapat menjadi seperti apa. Landy dan Becker membuat pengelompokan
pendekatan teori motivasi ini menjadi 5 kategori yaitu teori kebutuhan,teori
penguatan,teori keadilan,teori harapan,teori penetapan sasaran.
A. TEORI MOTIVASI ABRAHAM MASLOW
(1943-1970)
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia
memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk
piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan
sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai
motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan
dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi
sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan
yang penting.
• Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
• Kebutuhan rasa
aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
• Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki
(berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
• Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi,
berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
• Kebutuhan
aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi;
kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan
aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya)
Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan
mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi
kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni
minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi
dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam
masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan,
perlindungan, dan rasa aman.
B. TEORI MOTIVASI HERZBERG (1966)
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang
untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua
faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator
(faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari
ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan,
kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor
motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk
didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb
(faktor intrinsik).
C. TEORI MOTIVASI DOUGLAS
McGREGOR
Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y
(positif), Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang manajer
a.karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak
menyukai kerja
b.karyawan
tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk
mencapai tujuan.
c.Karyawan
akan menghindari tanggung jawab.
d.Kebanyakan
karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja.
Kontras dengan
pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
karyawan dapat memandang kerjasama dengan
sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
Orang akan menjalankan pengarahan diri dan
pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran.
Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.
D. TEORI MOTIVASI VROOM (1964)
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan
mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat
melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan.
Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga
komponen, yaitu:
• Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
•
Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil
dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome
tertentu).
• Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral,
atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi
harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan
E. Achievement TheoryTeori achievement
Mc Clelland (1961),
yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961),
menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:
• Need for
achievement (kebutuhan akan prestasi)
• Need for
afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya
Maslow)
• Need for Power
(dorongan untuk mengatur) F. Clayton Alderfer ERG
Clayton
Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan
manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan
(growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder
mngemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat
dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerakk yang fleksibel dari pemenuhan
kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.
Deputi Bidang Pengembangan
Regional dan Otonomi Daerah (Otda) Bappenas, Ir. Max H. Pohan, CES., MA.,
menjadi keynote speaker dalam acara seminar nasional Pembangunan Perkotaan
"Arah Pembangunan Kota-Kota Besar dan Metropolitan di Indonesia",
pada Kamis (20/11), pukul 09.00 WIB, di Ruang Rapat SG 1-4, Gedung Bappenas,
yang diselenggarakan oleh Direktorat Perkotaan dan Perdesaan Bappenas.
Dalam paparannya mengenai Review dan Arah Kebijakan Pembangunan Perkotaan,
Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otda mengatakan bahwa tantangan yang
dihadapi dalam arah pembangunan kota-kota besar dan metropolitan di Indonesia
dimasa depan adalah: 1) kota-kota besar dan metropolitan mau tidak mau
berperan sebagai Engine of Growth dari pembangunan nasional; dan 2) jika
dilihat dari aspek pembangunan yang harmonis, peran kota-kota besar dan
metropolitan sebagai "Engine of Growth" juga mendapatkan tantangan,
yaitu untuk tetap memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan dan
kelayakhunian.
"Berdasarkan studi yang dilakukan Bappenas, jumlah penduduk yang tinggal
di perkotaan semakin meningkat, dari 35,9% pada tahun 1995 menjadi 48,3% pada
tahun 2005. Bahkan diperkirakan sebelum tahun 2010 jumlah penduduk perkotaan
secara nasional telah melampaui jumlah penduduk perdesaan, dan pada tahun
2025 nanti 68,3% penduduk Indonesia akan mendiami kawasan perkotaan, "
kata Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otda.
RPJPN 2005-2025 mengamanahkan bahwa pembangunan perkotaan diagendakan untuk
saling kait mengait dengan wilayah perdesaan dalam upaya untuk mewujudkan
pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan. Yang mengarah pada: 1)
pembangunan kota-kota metropolitan, besar, menengah, dan kecil, yang
diseimbangkan pertumbuhannnya dengan mengacu pada sistem pembangunan
perkotaan nasional; 2) pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan
dikendalikan dalam suatu sistem pembangunan metropolitan yang kompak, nyaman,
efisien dalam pengelolaan, serta mempertimbangkan pembangunan yang
berkelanjutan; 3) percepatan pembangunan kota-kota kecil dan menengah
ditingkatkan terutama di luar Pulau Jawa; dan 4) peningkatan keterkaitan
kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan dengan kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan
didorong secara sinergis, dalam artian hasil produksi wilayah perdesaan
merupakan backward linkages dari kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan, dalam
suatu "sistem wilayah pengembangan ekonomi".
Seminar kemudian diisi dengan pemaparan dan diskusi oleh para narasumber yang
berasal dari pemda, pengamat dan pakar di bidang perkotaan, dengan dipandu
oleh Staf Ahli Menneg PPN Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Penanggulangan
Kemiskinan, Dr. Ir. Imron Bulkin, MRP.
Konsep pengembangan wilayah dikembangkan dari kebutuhan
suatu daerah untuk meningkatkan fungsi dan perannya dalam menata kehidupan
sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan kesehateraan masyarakat. Pengaruh
globalisasi, pasar bebas dan regionalisasi menyebabkan terjadinya perubahan dan
dinamika spasial, sosial, dan ekonomi antarnegara, antardaerah
(kota/kabupaten), kecamatan hingga perdesaan. Globalisasi juga ditandai dengan
adanya revolusi teknologi informasi, transportasi dan manajemen. [...]
Teori perencanaan kota mulai dikenal sejak tahun 1945, yaitu sejak Perang
Dunia Pertama, dan mengalami perubahan yang signifikan sejak jaman Postmodern,
yaitu sekarang ini. Menurut Nigel Taylor (1998), perubahan yang mendasar adalah
pada paradigma perencanaan kota itu sendiri. Pada awal lahirnya teori perencanaan
kota, perencanaan kota dipakai sebagai alat untuk menggambarkan ide-ide sosial
dari penguasa saat itu. Pada awal abad 21, perubahan banyak terjadi pada kultur
dan nilai-nilai yang mempengaruhi paradigma perencanaan kota.
Ada tiga konsep pemikiran yang mendasar pada teori perencanaan kota tahun 1945,
khususnya di Eropa, yaitu:
1. perencanaan kota sebagai perencanaan fisik kota
2. perancangan kota sebagai esensi dari perencanaan kota
3. ketepatan spasial dalam bentuk ‘gambar’ ataupun ‘blue print’ sebagai produk
akhir dari suatu perencanaan kota sangat dituntut (Taylor, 1998,p.5).
Ketiga konsep perencanaan kota diatas bertahan sampai Perang Dunia Kedua,
dimana perencanaan kota lebih dianggap sebagai bagian dari arsitektur atau
seni, ruang kota seperti layaknya kanvas yang luas. Meskipun konsep tentang
perencanaan kota sebagai produk fisik masih tetap diakui sampai sekarang ini.
Perubahan ini dapat dikatakan sebagai perubahan yang bersifat internasional:
perencanaan kota adalah arsitektur dalam skala yang lebih luas. Sehingga
konsekuensinya, profesi perencana kota sebagian besar adalah juga arsitek.
Sejak 1960-an, perencanaan kota lebih dilihat sebagai suatu sistem dari pada
produk fisik. Yaitu merencanakan sistem suatu kota yang pada dasarnya merupakan
akumulasi dari sistem-sistem yang lebih kecil di dalam kota yang saling
berhubungan, seperti jaringan jalan kota, dan sistem jaringan air kota. Konsep
ini lebih didasari pada nilai sosial dan kegiatan ekonomi dari kota, yang pada
akhirnya
melibatkan banyak keilmuan dalam merencanakan suatu kota.
Hingga akhir 1960, yang dianggap sebagai awal dari jaman Postmodern,
perencanaan kota lebih cenderung pada perencanaan yang komprehensif, yang
mempertahankan keragaman dan pluralisme. Masyarakat dengan bebas menentukan nilai-nilai
unik yang mereka miliki, dan menjadi pertimbangan yang signifikan pada
perencanaan kota. Bisa diambil contoh yaitu proses pengambilan keputusan
terhadap perencanaan suatu kawasan di banyak negara maju yang saat ini lebih
bersifat bottom-up.
Perkembangan teori perencanaan kota sangat tergantung pada perkembangan kota
itu sendiri (urban development). Paul Balchin, David Isaac, dan Jean Chen
(2000), menggambarkan siklus perkembangan kota sebagai kurva yang meningkat
sejak abad 18 sampai pertengahan abad 19. Kurva ini bisa dijelaskan sebagai
berikut:
1. Proses urbanisasi.
Yaitu proses tumbuhnya kota karena perpindahan penduduk dari rural ke urban
yang diawali dengan adanya Revolusi Industri pada abad 18.
2. Proses urbanisasi atau sub-urbanisasi.
Proses urbanisasi menimbulkan berkembangnya sektor jasa yang cukup pesat dan
kegiatan manufaktur yang cenderung memilih lokasi pinggiran/ luar pusat kota,
sehingga pada tahap ini menyebabkan tumbuhnya suburbansuburban.
3. Proses sub-urbanisasi.
Proses sub-urbanisasi yang diikuti dengan menurunnya populasi di pusat kota.
4. Proses re-urbanisasi atau de-urbanisasi.
Yaitu proses yang disebabkan oleh berkembangnya suburban menjadi urban.
Gambar 1. Kurva Perkembangan Kota (Urban Development) (Balchin et al., 2000,
p.246)
Dilihat dari sekuen waktu teori perkembangan kota diatas, teori perencanaan
kota mulai berkembang pada tahap urbanisasi dan suburbanisasi, dimana sudah
dikenal adanya pertumbuhan daerah pinggiran kota. Pusat kota tumbuh pesat
akibat Revolusi Industri (urbanisasi) dan dipicu dengan rusaknya kota karena
Perang Dunia Pertama, penguasa kota baru menyadari pentingnya merencanakan
suatu kota, dengan menganggap perencanaan kota sebagai bagian dari arsitektur
yang lebih makro. Proses sub-urbanisasi mengikuti proses urbanisasi, selama
Perang Dunia Kedua, memandang kota lebih kepada integrasi dari banyak system
didalam kota, termasuk sistem yang menyatukan pusat kota dan daerah pinggiran
yang mulai tumbuh. Pada proses re-urbanisasi atau deurbanisasi, yaitu sejak
abad 21, lebih banyak dipengaruhi oleh issue globalisasi.
(Vibiznews-Property)- Perkembangan kota-kota di Indonesia
yang mulai pesat sekarang ini menuntut suatu perencanaan yang matang dalam
memenuhi kebutuhan setiap lapisan masyarakat yang ada. Pemerintah diharapkan
dapat menciptakan suatu kota yang nyaman bagi setiap individu untuk dapat
tinggal dan beraktifitas. Untuk itu diperlukan suatu perencanaan kota yang
terintegrasi dengan baik antara satu kawasan dengan kawasan yang lainnya,
mengingat setiap kawasan memiliki fungsinya masing-masing dan saling
melengkapi. Adapun menurut National Urban development Strategy (NUDS, 1985)
terdapat 4 dasar fungsi kota;
Setiap kota di dunia selalu memiliki 4 dasar kegiatan fungsional tersebut,
namun yang membedakannya adalah skala pelayanannya. Berdasarkan keragaman
fungsi dan skala pelayanannya, kota-kota dapat digolongkan menjadi;
– National Development Centers (NDC)
– Interregional Development Centers (IDC)
– Regional Development Centers (RDC)
– Local Service Centers (LSC)
Perkembangan suatu kota kini tidak didominasi oleh satu golongan saja. Hal ini
tidak memungkiri bahwa kota pada golongan Local Service Centers dapat
berkembang menjadi Regional Development Centers dalam waktu beberapa tahun,
tergantung perencanaan yang telah ditetapkan pemerintah. Namun pada dasarnya,
kegiatan perencanaan suatu kota selalu bertujuan untuk mendukung aktivitas di dalamnya,
yaitu:
- Penyedian fasilitas umum yang memadai
- Penyedian fasilitas utilitas
- Penyedian perumahan (lokasi, distribusi, estetika)
- Penyedian sistem transpotasi
Perencanaan Kota di Indonesia
Di Indonesia, suatu rencana kota tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah,
yang tentunya dimiliki oleh setiap kawasan dari tingkat kecamatan sampai
nasional. Berikut prosedur perencanaan kota di Indonesia berdasarkan UU No. 24
tahun 1992;
Rencana tata ruang biasanya diperbaharui setiap 5 tahun sekali untuk kawasan
setingkat kecamatan. Semakin luas kawasan yang ditangani, semakin panjang
jangka waktu yang diperlukan untuk menyusun rencana baru, namun tetap diadakan
evaluasi dalam jangka waktu yang ditentukan.
Adapun penggolongan rencana menurut RTRW membagi skala kota menjadi 2 jenis,
yaitu Perencananan Kota Nasional (PKN) dan Perencananan Kota Wilayah (PKW).
Perencanaan Kota Nasional berlaku bagi kota yang memiliki ciri sebagai berikut:
• Pusat yg mempunyai potensi sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan
internasional dan mempunyai potensi untuk mendorong daerah sekitarnya
• Pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yang melayani nasional atau beberapa
propinsi
• Pusat pengolahan/pengumpul barang secara nasional atau meliputi beberapa
propinsi
• Simpul transportasi secara nasional atau meliputi beberapa propinsi
• Pusat jasa pemerintahan untuk nasional atau meliputi beberapa propinsi
• Pusat jasa-jasa kemasyarakatan yang lain untuk nasional atau meliputi
beberapa propinsi
Perencananan PKW berlaku bagi kota yang memiliki ciri sebagai berikut:
• Pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yg melayani propinsi atau beberapa
kabupaten
• Pusat pengolahan/pengumpul barang untuk satu propinsi atau meliputi beberapa
kabupaten
• Simpul transportasi untuk satu propinsi atau meliputi beberapa kabupaten
• Pusat jasa pemerintahan untuk satu propinsi atau meliputi beberapa kabupaten
• Pusat jasa-jasa kemasyarakatan yang lain untuk untuk satu propinsi atau
meliputi beberapa kabupaten
Perencanaan kota-kota di Indonesia perlu dilakukan secara matang dan terpola.
Maka dari itu diperlukan perencanaan yang memperhatikan kondisi fisik dan
kondisi masyarakat yang ada. Kondisi fisik seperti fasilitas dan utilitas yang
memadai, hunian yang sehat, dan sistem transportasi yang efisien dapat
mendukung aktifitas masyarakat sehingga dapat menciptakan kota yang produktif.
Selain itu, pembangunan kota-kota di Indonesia harus sesuai prosedur yang
diatur dalam RTRW. Diharapkan dengan adanya kejelasan hukum dan tata guna lahan
yang ada pada RTRW dapat diterapkan pelaksanaannya di berbagai daerah di
Indonesia sehingga mendukung pertumbuhan kota-kota yang ada menjadi lebih
cepat, tepat, dan optimal.
Perencanaan pembangunan kota-kota yang
disusun pemerintah daerah perlu disederhanakan agar program yang terkait dengan
masalah pembangunan perumahan dan kawasan permukiman bagi masyarakat dapat
berjalan dengan baik.
Menteri Negara Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa mengatakan apabila program
perumahan dapat dilaksanakan dengan baik tentunya bisa menjadi salah satu muara
bagi pembangunan kota-kota di masa yang akan datang.
"Semua aktifitas masyarakat di kota pastinya akan kembali di rumah. Jadi
rumah merupakan muara perencanaan pembangunan kota," kata Suharso dalam
siaran pers yang diterima Bisnis, hari ini.
Menurut Suharso Monoarfa, kebutuhan rumah bagi masyarakat di kota-kota besar
saat ini memang cukup besar, artinya ada peluang investasi di sektor perumahan
yang bisa disinergikan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah serta
pengembang.
“Sudah saatnya pemda dan pengembang menjemput bola terkait pemenuhan perumahan
bagi masyarakat. Sebab, rumah di Jakarta sudah sangat padat dan perlu
dikembangkan ke daerah-daerah,” katanya.
Menurut Suharso pembangunan kota-kota baru diharapkan dapat terlaksana
dengan baik sehingga masyarakat bisa beraktifitas dekat dengan tempat
tinggalnya.
Dia menambahkan, saat ini pemerintah tengah mengembangkan Kota Maja sebagai
sodetan atas lokasi perumahan baru bagi masyarakat di Jakarta. Kota yang berada
di tiga daerah yakni Kabupaten Tangerang, Pandeglang dan Bogor ini, katanya
diharapkan bisa menjadi kota baru sehingga bisa mengurangi mobilitas warga di
Ibukota.
Lebih lanjut, Suharso menuturkan pemerintah segera membangun infrastruktur kota
seperti jalan dan rel kereta api sebagai jalur tranportasi masyarakat.
Sementara itu, Sekertaris Daerah Kabupaten Tangerang Hermansyah mengatakan
pihaknya mendukung kebijakan serta program pemenuhan kebutuhan perumahan bagi
masyarakat, khususnya di Kabupaten Tangerang.
Menurut dia saat ini potensi bisnis perumahan dan properti di Kabupaten
Tangerang telah menjadi salah salah satu bagian dari pengembangan daerah
tersebut.
“Kabupaten Tangerang kini telah menjadi salah satu lokasi tempat tinggal
pilihan bagi masyarakat yang bekerja di ibukota. Tentunya ke depan kami tetap
memberikan dukungan terhadap program perumahan sebab jumlah kebutuhannya
sangat besar,” imbuhnya. (gak)
Perencanaan
Conyers dan Hill (1984:3):
Perencanaan merupakan sebuah proses
yang berkelanjutan yang menghasilkan keputusan-keputusan, atau pilihan-pilihan,
tentang alternatif cara penggunaan sumberdaya-sumberdaya yang memungkinkan,
dengan tujuan untuk mencapai suatu bagian dari tujuan dalam jangka waktu
tertentu di masa yang akan datang.
Elemen dasar dari perencanaan kota:
¡ Merencana berarti
membuat suatu pilihan.
¡ Perencanaan berarti
mengalokasikan sumberdaya yang ada.
¡ Perencanaan berarti
mencapai tujuan.
¡ Perencanaan untuk masa
yang akan datang.
Perencanaan di Dunia Ketiga
Perencanaan lebih diapresiasi sebagai perencanaan fisik
dan perencanaan pembangunan ekonomi.
Perencanaan sosial dan lingkungan seringkali kurang
mendapatkan perhatian yang cukup.
Akibatnya sering terjadi ketimpangan hasil-hasil
pembangunan.
Pembangunan teknologi dan ekonomi mengalami kemajuan
linier, tetapi manusianya tidak siap menyesuaikan dengan kemajuan
teknologi dan ekonomi.
Unsur-Unsur dalam Pembangunan
Unsur-unsur dalam pembangunan:
¡ Proses perubahan
¡ Upaya yang terencana
¡ Tujuan yang lebih baik
¡ Dengan nilai dan norma
tertentu
Pembangunan adalah suatu proses perubahan yang direncanakan untuk mencapai
tujuan yang lebih baik bagi masyarakat, dan dilakukan dengan norma-norma atau
nilai-nilai tertentu.
Perencanaan Pembangunan Kota
Perencanaan adalah upaya untuk mengenali kemampuan diri
dan mengenali pihak lain sebagai pembanding, menentukan suatu cita-cita
hendak menjadi apa, menentukan pilihan sumberdaya untuk digerakkan, dan
menentukan tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai di masa depan melalui
suatu implementasi.
Pembangunan adalah suatu proses perubahan yang
direncanakan untuk mencapai tujuan yang lebih baik bagi masyarakat, dan
dilakukan dengan norma-norma atau nilai-nilai tertentu.
Perencanaan pembangunan kota adalah upaya mengenali
potensi kota, dan mengenali kota lain sebagai referensi untuk menentukan
wajah kota, kemudian mengenali sumberdaya yang adadan menggerakkannya, dan
diimplementasikan secara bertahap, biasanya dengan prioritas tertentu,
dengan tujuan dan nilai tertentu di masa depan untuk memperoleh
perbaikan di bidang fisik, sosial, dan ekonomi pada umumnya.
Urutan tingkat perencanaan menurut
skala (Steigenga dalam Jayadinata, 1992)
Perencanaan lokal:
- Perencanaan luhak (lokal
terbatas), meliputi kampung, kota kecil, dan sebagian kota besar.
- Perencanaan mandala (lokal yang
lebih luas), mengenai sekelompok kampung atau kota sedang.
Perencanaan wilayah, meliputi kota-kota besar dan
pemusatan penduduk (aglomerasi ) di perkotaan, wilayah pedesaan dalam
suatu daerah, himpunan (konurbasi) kota, dsb.
Perencanaan nasional, yakni mengenai negara-negara dan
bagian-bagiannya, biasanya menyangkut perencanaan ekonomi dan memerlukan
modal nasional.
Perencanaan sebagian benua (patial continental niveau),
yaitu megenai hubungan negara dengan negara-negara lain di sekitarnya,
misalnya dalam hubungan Indonesia dengan Asia Tenggara.
Administrasi perencanaan daerah,yaitu mengenai
bagian-bagian suatu negara.
Di Indonesia
Perencanaan Nasional: untuk seluruh wilayah
negara Repulik Indonesia.
Perencanaan Kawasan: untuk memfokuskan suatu
perencanaan pembangunan secara garis besar dengan tujuan tertentu.
misal: kawasan Indonesia Timur.
Perencanaan Regional: untuk wilayah yang lebih
luas, seperti wilayah propinsi, wilayah kabupaten/kota.
Perencanaan Lokal: untuk wilayah yang lebih kecil.